Tampilkan postingan dengan label kearifan lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kearifan lokal. Tampilkan semua postingan

Festival Budaya Berbasis Kearifan Lokal

sd sendangsari 23.52 Add Comment
Festival Budaya Berbasis Kearifan Lokal
SD Sendangsari menjadi salah satu peserta Festival Budaya Berbasis Kearifan Lokal yang diadakan di Gabusan pada tanggal 3 Nopember 2011.

SD Sendangsari mengeluarkan produk-produk kearifan lokal dari umbi-umbian.
Kegiatan dilaksanakan 1 hari dan antusias masyarakat luar biasa. Sambil melihat pameran kearifan lokal dapat menyaksikan penampilan.
Mari kita kembangkan warisan leluhur dan terus kita kenalkan kepada generasi muda.

Kunjungan : Study Komperatif dari Kalimantan Timur

sd sendangsari 19.13 Add Comment

Kunjungan : Study Komperatif dari Kalimantan Timur
SD Sendangsari hari sabtu , 18 Desember 2010 menerima tamu dari Kabupaten Tana Tidung Kalimanantan timur dalam rangka Study Komperatif.
Unggulan SD sendangsari yaitu mengenai kearifan lokal dari umbi-umbian.
Pengolahan pangan lokal ini merupakan sesuatu yang bagus untuk dikembangkan menjadi produk yang bermutu. Umbi-umbian yang ada dapat dimanfaatkan menjadi Tepung, emping, dll
Sehingga bisa menjadi nilai lebih dari bahan yang semua tidak populer menjadi bermanfaat.
Produk-produk kearifan lokal mengangkat kembali nilai-nilai dan warisan budaya dari nenek moyang kita.

by: wishnew.




Kunjungan dari DNP : "Development And Peace"

sd sendangsari 18.58 1 Comment

Kunjungan dari DNP : "Development And Peace" = Lembaga Pembangunan dan Perdamaian dari Kanada

Ketertarikan akan pembelajaran Hak-hak anak dan kearifan lokal di SD Sendangsari kaitannya dengan ketahanan pangan dan kelestarian Lingkungan hidup
Olah pangan lokal / umbi-umbian yang mulai terlupakan mampu menyadarkan pada pola pikir wali murid.


Posting dari bapak Lajaryono

Biasakan cuci tangan

sd sendangsari 20.36 Add Comment

padasan untuk cuci tangan dan kaki

Padasan di sediakan untuk cuci tangan dan kaki sehabis aktivitas di sekolah.
Seorang siswa sd tidak lepas dari aktivitas yang tingga. Bermain dengan teman, olahraga, dan sebagainya. Siswa sd sendangsari di biasakan cuci tangan dan kaki setelah beraktivitas.
Untuk hidup sehat dan bersih

Emping Garut Alternatif Makanan Sehat

sd sendangsari 23.07 Add Comment

Garut (Marantha arundinacea) merupakan pangan lokal yang potensial untuk dikembangan sebagai usaha agribisnis. Tanaman garut merupakan jenis tanaman yang toleran terhadap lingkungan, misalnya tumbuh baik di lahan yang ternaungi. Garut selain sebagai sumber karbohidrat, juga sebagai tanaman biofarmaka karena kandungan indeks glisemik yang rendah, sehingga sangat bermanfaat bagi penderita diabetes/penyakit kencing manis.

Garut (Marantha arundinacea) merupakan pangan lokal yang potensial untuk dikembangan sebagai usaha agribisnis. Tanaman garut merupakan jenis tanaman yang toleran terhadap lingkungan, misalnya tumbuh baik di lahan yang ternaungi. Garut selain sebagai sumber karbohidrat, juga sebagai tanaman biofarmaka karena kandungan indeks glisemik yang rendah, sehingga sangat bermanfaat bagi penderita diabetes/penyakit kencing manis.

Umbi tanaman garut adalah sumber karbohidrat yang memiliki kandungan indeks glisemik rendah dibanding jenis umbi-umbian yang lain, sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan terutama untuk penderita diabetes atau penyakit kencing manis. Tanaman garut dapat dijumpai di hampir seluruh wilayah Indonesia, dapat tumbuh dengan baik pada lahan ternaungi sehingga gampang dibudidayakan dan dipelihara. Budidaya secara intensif dapat menghasilkan rata-rata 21 ton umbi /ha. Harga umbi basah Rp.1.000 – Rp1.500/kg. agaknya cukup potensial untuk menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi. Umbi garut cocok untuk pengembangan agribisnis pedesaan,



Dalam rangka optimalisasi lahan dan pemeberdayaan petani, Prima Tani di Desa Semin, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul, pengembangan komoditas garut menjadi program utama. Diharapkan program Garutisasi menjadi salah satu pengungkit pengembangan wilayah Desa Semin. Potensi lahan pekarangan wilayah tersebut yaitu 256,7 ha yang dapat diusahakan untuk tanaman garut sekitar 10 %, dengan tingkat produktivitas 21 ton/ha maka produksi garut mencapai + 539 ton/tahun. Dalam upaya meningkatkan nilai tambah (added value) dari komoditas tersebut, maka dengan sentuhan teknologi sederhana garut diolah menjadi emping garut, sehingga menjadi produk makanan yang digemari oleh konsumen dan menjadi makanan alternatif pengganti emping mlinjo yang saat ini mulai menurun dengan alasan kesehatan

PROSES PRODUKSI

Pembuatan emping garut diawali dengan pemilihan umbi garut yang baik.Biasanya dengan memilih umbi garut yang berdiameter 2-3 cm. Proses selanjutnya adalh pengupasan dan pencucian umbi garut. umbi yang sudah dikupas kulitnya dan dicuci kemudian dipotong-potong dengan ketebalan sekitar 1 cm.

Langkah selanjutnya adalah dengan merebus irisan garut dan dengan menambahkan bumbu 1,5% garam dan 2% bawang putih. proses perebusan ini memakan waktu antara 30-45 menit. setelah masak rebusan garut kemudian ditiriskan.Proses selanjutnya adalah mencetak dengan cara memipihkan diatas lembaran plastik seperti pada pembuatan emping melinjo.proses terakhir adalah proses pengeringan dengan menggunakan sinar matahari. setelah kering emping garut dikemas dan siap untuk dipasarkan.

Selain dijadikan emping garut, hasil produksi garut adalah tepung garut. Biasanya tepung garut ini digunakan perusahaan untuk bahan baku pembuatan mie putih, pengganti atau tambahan tepung terigu untuk pembuatan roti, bahan kosmetik untuk kecantikan.

DAMPAK PENGKAJIAN

Teknologi pembuatan emping garut berdampak positif bagi masyarakat tani. Pemanfaatan umbi garut untuk emping memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Harga umbi basah Rp.1.000-1.500/kg. Kebutuhan umbi basah per 1 kg emping adalah 5kg, dengan demikian sangat cocok dikembangkan sebagai agroindustri rumahtangga sebagai upaya pemberdayaan rumahtangga tani. Kapasitas kerja per hari setiap anggota kelompok tani 15-20 kg umbi basah, emping yang dihasilkan 3-4 kg. Nilai jual emping Rp.13.000-15.000,00/kg.Apabila dikurangi dengan biaya produksi sebesar Rp.10.000,00 maka diperoleh pendapatan bersih tiap rumahtangga per hari sebesar Rp. 30.000,00. Hal ini dirasakan petani sangat menguntungkan daripada harus bekerja sebagai buruh bangunan atau pekerjaan lainnya.

PELUANG PASAR

Peluang pasar masih sangat terbuka, hal ini terlihat dengan permintaan produk yang sangat besar sehingga petani kadang-kadang merasa kewalahan menerima pesanan. Pemasaran emping garut saat ini selain untuk memenuhi permintaan lokal, permintaan datang dari Solo, Jakarta, Surabaya, bahkan sampai Kalimantan dan Sulawesi.

KESIMPULAN

Pemanfaatan umbi garut beserta produk olahannya dirasa sangat membantu untuk penduduk yang berada pada daerah pegunungan dan kering. Penggalian potensi daerah-daerah pegunungan dan kering dirasa sangat perlu mengingat daerah-daerah tersebut umumnya tidak produktif sehingga banyaknya warga yang eksodus keluar daerah untuk mencari pekerjaan.

Seperti misalnya Kabupaten Sragen Lokasi tanaman Garut berada di Kecamatan Gesi, Mondokan, Sukodono dan Miri dengan luas areal potensional 7.828 ha. Bahkan salah satu sentra penghasil emping garut di daerah gesi sudah mendapatkan sertifikasi dari Sucofindo. Masih banyak daerah -daerah yang semisal Sragen dan Gunung Kidul yang masih menyimpan potensi besar untuk mengembangkan tanaman garut. Dengan potensi pendapatan Rp. 30.000/hari menjadikan alternatif petani untuk mendapatkan penghasilan tanpa harus eksodus keluar daerah. Hal ini akan memudahkan Pemerintah daerah untuk pemeratakan tingkat perekonomian tidak hanya untuk daerah dataran rendah dan subur saja.

(sumber gambar : www.kawruhjawi.wordpress.com)
sumber artikel: http://bisnisukm.com/emping-garut-alternatif-makanan-sehat.html

Lestarikan Kembali Pangan Lokal Indonesia

sd sendangsari 05.09 Add Comment


Betapa kayanya Indonesia. Apa yang tidak bisa ditanam di Indonesia. Kita semua harus mensyukuri atas semua pemberian Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia yaitu pemberian berbagai macam bahan makanan, laus yang luas, laut yang hasilnya melimpah, tanah yang luas, tanah yang subur, sehingga apa yang di tanam bisa tumbuh dan menghasilkan pangan.



Indonesia mempunyai kelebihan yang luar biasa bila dibanding dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Apapun yang kita tanam bisa tumbuh bahkan orang Belanda bilang di Indonesia jari di tanam bisa tumbuh. Itu artinya bahwa wilayah Indonesia ini memang betul-betul sangat subur dan kaya akan berbagai macam pangan lokalnya.

Pangan lokal sesungguhnya merupakan bentuk kekayaan budaya kuliner kita. Keanekaragamannya yang terbentuk atas dasar ketersediaan bahan baku dan kebutuhan lokal, menjadikannya memiliki tingkat kesesuaian yang tinggi dengan kebutuhan masyarakat akan energi bagi tubuhnya. Seperti halnya umbi-umbian.

Saat ini, umbi yang masih kita kenal hanya ubi jalar dan ubi kayu saja. Bagi kita, nama-nama umbi seperti gembili, ganyong, uwi, suweg, gadung, bentoel dan lain-lain terdengar asing ditelinga. Apalagi untuk anak-anak, saat ini mereka banyak yang tidak kenal jajanan pasar seperti gatot, tiwul, blendong/blendus/gronthol, jemblem, combro, cenil, klepon, gempo yang semakin lama semakin tenggelam dengan banyaknya makanan kemasan di warung-warung sekitar.

Selama ini makanan umbian masih kurang diminati karena masyarakat menilai pangan umbian saat ini ketinggalan zaman. Akibatnya pangan tersebut jarang sekali disajikan sebagai hidangan sehari-hari atau sebagai camilan. Masyarakat kini masih memandang bahwa makanan Barat yang siap saji (fast food) lebih baik, sehat dan higienis. Padahal, makanan tersebut hampir seluruhnya menggunakan bahan baku terigu yang bahan bakunya di impor, seperti pizza atau mie.

Siapa bilang umbi-umbian adalah makanan desa, ketinggalan zaman dan tak bergizi. Berdasarkan penelitian, umbi-umbian tersebut memiliki kandungan gizi yang tinggi. Suweg memiliki kandungan kalsium yang baik bagi pertumbuhan anak, dapat menguatkan tulang dan gigi baik bagi anak maupun orang dewasa. Begitu juga dengan kimpul, selain mengandung kalsium, juga mengandung kalori yang digunakan oleh tubuh untuk beraktifitas.

Sedangkan uwi memiliki fosfor dengan kandungan tinggi yang digunakan oleh tubuh untuk proses metabolisme. Tidak ketinggalan dengan gadung, umbi ini ternyata mengandung vitamin C cukup tinggi, bagus untuk meningkatkan kekebalan tubuh serta menghindari serangan flu di musim yang mudah berubah seperti sekarang. Untuk umbi ganyong, data Direktorat Gizi Depkes RI menyebutkan bahwa kandungan gizi Ganyong tiap 100 gram secara lengkap terdiri dari kalori 95,00 kal; protein 1,00 g; lemak 0,11 g; karbohidrat 22,60 g; kalsium 21,00 g; fosfor 70,00 g; zat besi 1,90 mg; vitamin B1 0,10 mg; vitamin C 10,00 mg; air 75,00 g.

Untuk itu, perlu diperkenalkan kepada anak-anak sejak dini tentang manfaat mengkonsumsi makanan umbi-umbian. Hal ini dapat dilakukan mulai dari keluarga dengan menyajikan makanan lokal, kantin sekolah bahkan pasar swalayan. Sehingga makanan lokal akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan juga bisa diterima secara internasional. Selain itu dengan memanfaatkan berbagai pangan lokal, akan baik bagi stabilitas pangan suatu daerah. Jenis yang semakin banyak memungkinkan masyarakat untuk memiliki alternatif pangan lain selain beras dan terigu.

(Sumber gambar: http://putri-cookies.blogspot.com/2009/05/jajan-pasar.html, http://mozaikdunia.blogspot.com/)
sumber artikel: http://bisnisukm.com/lestarikan-kembali-pangan-lokal-indonesia.html

“Minyong”, sebagai Alternatif Pengolahan Ganyong

sd sendangsari 04.52 Add Comment

Ganyong (Canna edulis Ker.) adalah sejenis tumbuhan penghasil umbi yang kurang populer dibandingkan ubi jalar atau ubi kayu dan kelestariannyapun semakin terancam karena tidak banyak orang yang menanam dan mengonsumsinya. Tetapi sekarang, Ganyong sudah mulai banyak dibudidayakan teratur di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jambi, Lampung, dan Jawa Barat.

Ganyonng banyak dikenal dengan berbagai macam nama daerah. Ada yang menyebut sebagai “buah tasbih”, “ubi pikul”, “ganyal”, “ganyol”, atau pun “sinetra”. Sedangkan nama asingnya quennsland arrowroot. Sementara ini, sekurangnya ada dua provinsi sebagai sentral Ganyong, yakni Jawa Tengah (Klaten, Wonosobo, dan Purworejo), dan Jawa Barat (Majalengka, Sumedang, Ciamis, Cianjur, Garut, Lebak, Subang, dan Karawang).

Umbi ganyong mengandung pati, meskipun tidak sebanyak ubi jalar. Tetapi, ganyong cukup berpotensi sebagai sumber hidrat arang. Data Direktorat Gizi Depkes RI menyebutkan bahwa kandungan gizi Ganyong tiap 100 gram secara lengkap terdiri dari kalori 95,00 kal; protein 1,00 g; lemak 0,11 g; karbohidrat 22,60 g; kalsium 21,00 g; fosfor 70,00 g; zat besi 1,90 mg; vitamin B1 0,10 mg; vitamin C 10,00 mg; air 75,00 g.

Manfaat ganyong sangatlah banyak, hampir semua bagian tanamannya bisa di manfaatkan. Umbi yang dewasa dapat dimakan dengan mengolahnya lebih dulu atau untuk diambil patinya. Sisa umbinya yang tertinggal setelah diambil patinya dapat digunakan sebagai kompos. Sementara pucuk dan tangkai daun muda dipakai untuk pakan ternak. Bunga daunnya yang cukup indah dimanfaatkan sebagai tanaman hias.

Selama ini pemanfaatan umbi ganyong hanya sebatas direbus untuk dibuat camilan. Padahal umbi ganyong memiliki kandungan gizi yang banyak yang diperlukan tubuh, sehingga sangat disayangkan apabila hanya dikonsumsi sebagai camilan yang hanya direbus. Lalu, bagaimana memanfaatkan ganyong untuk camilan selain di rebus?

Pemanfaatan umbi ganyong menjadi produk olahan lain salah satunya adalah menjadi mie ganyong. Dengan menjadi mie, ganyong akan memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi di bandingkan ketika ganyong hanya direbus saja. Pembuatan mie ganyong sebenarnya sangatlah mudah, pembuatannya bisa menggunakan alat sederhana yang bisa kita temukan di rumah. Untuk membuat mie ganyong, awalnya harus membuat pati ganyong terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan mengolah pati tersebut menjadi mie atau biasanya disebut Minyong (mie dari ganyong) .

Pembuatan Pati Ganyong

Ganyong yang sudah berumur (cukup tua) dipanen, diambil umbinya. Umbi ganyong dicuci bersih, dikupas kulitnya kemudian diparut. Ganyong parut selanjutnya diperas hingga hanya tersisa ampas / seratnya. Saring air perasan tadi dengan kain penyaring. Diamkan air dalam wadah hingga pati ganyong mengendap. Pisahkan air dengan pati ganyong. Keringkan pati ganyong dengan dijemur sinar matahari atau dioven.

Pembuatan Minyong (Mie Ganyong)

Panaskan 5 s/d 6 liter air hingga hampir mendidih. Masukkan 1 kg pati ganyong ke dalam air panas tersebut sambil terus diaduk supaya jangan menggumpal. Jika terlalu kental, dapat ditambahkan air panas hingga menjadi bubur encer. Tambahkan 75 gram minyak goreng (agar mie ganyong tidak lengket).

Didihkan selama 10 s/d 15 menit agar tanak. Angkat, lalu lapiskan tipis-tipis pada daun pisang yang sudah disiapkan. Jemur di bawah sinar matahari hingga 5 s/d 6 jam. Jika sudah nampak kering, pisahkan lapisan mie ganyong dari daun pisang. Diamkan lembaran mie ganyong tersebut selama 10 hingga 15 jam. Iris lembaran mie ganyong tersebut hingga membentuk mie. Jemur di bawah sinar matahari hingga kering. Ikat dengan tali, atau langsung dapat dikemas.

(Sumber gambar: http://default.tabloidnova.com/files/article/photo/9941_foto%20ganyong-1.jpg, http://harisahmad.files.wordpress.com/2009/06/pohon-ganyong.jpg )
(Sumber artikel: http://bisnisukm.com/minyong-alternatif-pengolahan-ganyong.html)


Pohon uwi

sd sendangsari 20.42 Add Comment



Pohon uwi, umbinya bisa di bikin tepung dan sebagainya. misal untuk bikin kue
photo by: panggih
poasted by: wishnew

Pohon Suweg

sd sendangsari 20.36 Add Comment


Umbi Pohon suweg untuk di buat tepung, rebus, kolak atau makanan tradisional lainnya.
photo by: panggih
posted : wishnew

Budaya saling hormat menghormati

sd sendangsari 19.37 Add Comment


Hal yang perlu tetap di jaga adalah suasana kekeluargaan di sekolah, seorang siswa mempunyai rasa hormat dan saling sayang menyanyangi menumbuhkan suasana yang hangat dalam proses pembelajaran.
Semoga setiap sekolahan mempunyai budaya yang sama.
Indahnya kasih sayang

Siswa Praktek

sd sendangsari 18.42 Add Comment

Siswa sedang praktek membuat produk-produk kearifan lokal

Dengan berkelompok dan berbagi tugas para siswa dengan senang membuat produk olah pangan kearifan lokal .

Roti kearifan Lokal

sd sendangsari 18.39 Add Comment

Gambar: roti dari tepung garut

Hasil dari tepung garut dapat di bikin roti, enak dan lezat.

Produk - Produk kearifan Lokal

sd sendangsari 18.31 Add Comment

SD Sednagsari mengembangakn produk-produk lokal:
gambar: Uwi/ubi (sebutan dalam bahasa jawa)

dengan mengembangkan olah pangan lokal memberikan ketahanan pangan di masa krisis. Dan terbukti saat terjadi bencana gempa, maka tidak kerepotan mencari bahan pangan alternatif

Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal dan Hak-hak Anak

sd sendangsari 03.41 Add Comment

SD Sendangsari
Melaksanakakan Model Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal dan Hak-hak Anak
A. Apakah Model Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal dan Hak-hak Anak itu ?
Menurut Kelompok Kerja Pengembangan Pendidikan Dasar (Pokja P2D) Kabupaten Bantul, Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal dan Hak-hak Anak adalah pembelajaran yang mengembangkan suasana belajar mengajar yang mengesankan, kreatif, dan menyenangkan dengan cara memasukkan permainan-permainan, seni, atau kreatifitas lainnya yang diangkat dari budaya lokal sehingga hak-hak dasar anak untuk bermain atau mengaktualisasi potensi dirinya dapat tersalurkan.

B. Mengapa Perlu Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal dan Hak-hak Anak?
1. pembelajaran menjadi tidak membosankan karena diselingi dengan permainan-permainan atau nyanyian dari budaya lokal
2. membantu mengembangkan kreatifitas siswa
3. tidak merampas hak-hak anak untuk bebas mengaktualisasi potensi dirinya
4. siswa melestarikan kekayaan budaya bangsa
5. siswa bangga akan budayanya sendiri

C. Bagaimana Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal dan Hak-hak Anak dilaksanakan?

1. dalam pembelajaran sebagai salah satu model pembelajaran
2. dalam program pengembangan diri siswa
3. dalam kegiatan ekstra kurikuler

D. Bagaimana Pembelajaran di SD Sendangsari dilaksanakan?

Menggunakan KURIKULUM SD SENDANGSARI (KTSP)
Terdiri 8 mata pelajaran,
3 mata pelajaran muatan lokal, dan program pengembangan diri siswa.

Mata Pelajaran :

1. Pendidikan Agama
2. Pendidikan Kewarganegaraan
3. Bahasa Indonesia
4. Matematika
5. Ilmu Pengetahuan Alam
6. Ilmu Pengetahuan Sosial
7. Seni Budaya dan Ketrampilan
8. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Mulok wajib : Bahasa Jawa.
Mulok pilihan I : PKK
Mulok pilihan II : Bahasa Inggris


Pengembangan Diri :
Seni baca Al Quran
Seni tari
Sepak bola
Senam
Pramuka
Pengenalan komputer


Pengembangan diri unggulan:
Keterampilan olah makanan lokal sebagai bagian tak terpisahkan dari Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal dan Hak Anak.

E. Rambu-rambu Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal dan Hak Anak di SD Sendangsari

Kelas I :
Pengenalan seni, budaya, dan potensi lokal terintegrasi dalam pembelajaran.

Kelas II :
Pengenalan seni, budaya, dan potensi lokal melalui mata pelajaran. Contoh: mewarnai gambar ketela.

Kelas III :

Praktik ringan seni, budaya, dan potensi lokal melalui mata pelajaran. Contoh: menggambar umbi

Kelas IV :
Praktik ringan seni, budaya, dan potensi lokal melalui mata pelajaran. Contoh: keterampilan memanfaatkan barang bekas / sampah plastik dibuat bunga hiasan dinding ruangan.

Kelas V :
Praktik seni, budaya, dan potensi lokal melalui mata pelajaran dan
diri. Contoh: praktik mengolah Umbi Kimpul menjadi tepung dan dibuat Bolu Kimpul.

Kelas VI :
Dengan suka rela membimbing adik kelas sebagai kegiatan refressing di sela-sela
konsentrasi mempersiapkan ujian.
Share/Bookmark